translate

Powered By Blogger

Kamis, September 17, 2015

Pendidikan di Indonesia, Apakah Sudah Maju ?

  Oleh : Iqbal Hanafi 

            Beberapa orang berpendapat bahwa dengan semakin berlimpahnya beasiswa di negeri ini, berarti semakin maju pula pendidikannya.
Namun, ada baiknya kita menelaah kembali pendapat tersebut apakah sudah sesuai dengan keadaan yang sedang berlangsung saat ini.
            Apabila kita hanya mengukur semua kemajuan berdasarkan pada sisi materil, maka tentu saja “orang kaya yang tidak bersekolahpun juga dapat kita katakan mengalami  kemajuan”.
 Akan tetapi, kita masih meragukan kemajuan pola pikirnya karena inilah yang membedakan antara “orang yang berpendidikan” dengan orang yang “tidak mengenyam pendidikan sama sekali”, yaitu perbedaan pola pikir.
            Realita yang terjadi di masyarakat Indonesia adalah selalu berpedoman pada sisi materil, namun bukan pada sisi kualitas dan ketahanan. Masyarakat di Indonesia lebih condong untuk mempercayai sesuatu yang “mahal” namun buruk dalam segi kualitas. Kita seperti membeli barang yang sangat mahal dengan penggunaan satu kali seumur hidup.
Kita butuh kemampuan, kita butuh ketahanan suapaya kita dapat menghidupinya.
            Memang, beasiswa di negeri ini sudah sangat berlimpah. Bukan hanya beasiswa pada pendidikan negeri, namun juga beasiswa pada pendidikan swasta. Hal ini merupakan suatu anugrah bagi negeri ini dan patut untuk di syukuri, tetapi jika anugrah tersebut dijadikan sebagai argumen untuk mengatakan bahwa pendidikan di Indonesia ini sudah maju, maka ada baiknya kita kembali bercermin lalu bertanya sudah maju di bidang apa saja ? bagaimana bentuk kemajuannya ? apakah sudah bernilai ? mengapa belum diterapkan ? dimana akan diterapkan ?



            Hal itulah yang patut kita perhatikan dengan segala pemahaman bahwa kita hanyalah mengalami kemajuan dalam segi pembangunan, yaitu pembangunan pada bidang pendidikan. Walaupun demikian, kita masih sedikit sekali mendapati sesuatu yang patut untuk kita banggakan pada diri anak bangsa, dengan tidak bermaksud untuk menafikkan kemampuan anak bangsa namun lebih kepada mengingat kembali sistem yang diberlakukan di negeri ini.
            Para pengamat pendidikan di negeri ini telah banyak mengatakan bahwa kondisi anak bangsa pada saat sekarang ini hanya dijadikan sebagai “robot – robot” pekerja yang hanya memiliki kemampuan berpikir “STATIS” bukan pada sebuah proses penciptaan  “manusia pemikir” yang sangat diperlukan untuk kelangsungan kehidupan dipermukaan bumi ini.
Teori yang harus terpaku pada isi buku, pengaplikasian yang dijalani berdasarkan apa yang orang terdahulu telah lakukan. Hal ini merupakan suatu tindakan yang dipaksakan.
Anak bangsa terkesan seperti tidak diizinkan dalam berpikir secara kreatif, sehingga yang terjadi adalah pemahaman yang tidak berkembang pada suatu masyarakat tertentu.
Menurut Drs. H. Aceng Kosasih, M. Ag didalam bukunya Ilmu sosial dan Budaya Dasar, bahwa  dari kualitas guru yang dihasilkan oleh “Lembaga Penghasil Guru”, menciptakan banyaknya guru yang hanya berpikir pada sebuah capaian "Tertulis", bukan pada pengembangan kemampuan berpikir anak.
Telah terpenuhinya catatan, nilai evaluasi belajar yang tinggi,  hingga menjadi juaranya anak  pada lomba keilmuan, "telah menjadikan otak anak sebagai sebuah memori komputer yang  tak memiliki sebuah kemampuan berkreasi”.
            Selain dari segi pendidikan secara formal, para pengamat juga menyatakan bahwa masih minimnya “PENDIDIKAN TENTANG NILAI”, nilai yang mencakup nilai Etika, nilai Estetika serta nilai moral. Dalam pendidikan formal, nilai ini hampir tidak diajarkan sama sekali sampai kita banyak menemukan seperti tawuran antar pelajar, siswa yang tidak berlaku sopan kepada gurunya, serta kurangnya partisipasi peserta didik untuk memasuki kondisi sosial di dalam masyarakat.   
Masyarakat Indonesia sudah sangat terbiasa dengan istilah sekolah untuk mendapatkan pekerjaan, yang makna sebenarnya sekolah adalah untuk menambah wawasan serta mengubah pola pikir dalam persiapan menjadi seorang individu yang sangat berarti bagi kemaslahatan manusia didunia.
Hal ini sudah barang tentu menjadi sebuah fakta yang mencengangkan jika kita telah menyadarinya. Pemahaman dalam berakhlak sebaiknya juga harus kita perhatikan. Pemahaman pendidikan di Indonesia sudah jauh dari ajaran TRIKON Ki Hajar Dewantara, yaitu Konsentris, Kontinuitas dan Konvergensi. Penilaian secara afeksi sudah lenyap dari lingkungan pendidikan di Indonesia yang sekarang sedang membudayakan penilaian secara kognitif yang juga merupakan suatu penilaian yang pragmatis.
Penilaian secara kongnitif apabila tidak dibarengi dengan penilaian secara afeksi, hal ini tentu saja akan membahayakan  kondisi pendidikan di Indonesia, sebagai masyarakat yang peduli tentunya kita harus sangat peka terhadap kondisi yang demikian itu guna menyelamatkan anak bangsa.
Pendidikan tentang nilai sangat diperlukan  dalam  menyiapkan peserta didik selaku  generasi yang dapat berpartisipasi serta dapat memecahkan masalah kondisi sosial dan budaya secara arif dan bijaksana, memberikan solusi yang bermanfaat secara halus dan mudah diterima, memberikan keyakinan kepada diri untuk bisa bersikap kritis sehingga tidak ada diskriminasi atau anggapan dari orang lain kepada peserta didik yang telah mampu memahami arti penting dari nilai tersebut dan mampu menerapkannyanya secara mendalam di dalam kehidupan bermasyarakat. Hal tersebut sudah tercantum dalam visi dan misi pendidikan umum di Indonesia yang bertujuan untuk menyiapkan generasi yang terampil, cerdas, serta dapat bersosialisasi di dalam masyarakat.
Baru – baru ini, pemerintah telah merencanakan  sistem pendidikan yang berbasis karakter. Tentunya kita sangat mengharapkan sekali rencana tersebut dapat berjalan dengan lancar dan  hasilnya sesuai dengan  standar yang telah dipersiapkan guna untuk menyelamatkan generasi bangsa dan  menyiapkan pemikir yang lebih kompeten dalam memberi gagasan atau  ide agar tercapai cita – cita luhur bangsa untuk ikut berpartisipasi dalam  kemajuan di dunia, seperti yang tertuang didalam  pembukaan UUD 1945 alinea ke empat.
GAGASAN ANDA?